|
HERMES XXI 12.30-14.40-16.50-19.00-21.10
SUN 12.45-14.55-17.05-19.15-21.25 PALLADIUM12.45-14.55-17.05-19.15-21.25
Since ancient times, the story of the epic battles and mystical legends have been passed from generation to generation in the mysterious land of Scotland. In the movie Brave, combine the two when Merida (Kelly Macdonald) who brave against tradition, destiny and also wild animals. Merida is a skilled archer, daughter of King Fergus (Billy Connolly) and Queen Elinor (Emma Thompson). Determined to define his own path, Merida against the ancient custom of the land made holy ruler: Lord MacGuffin (Kevin McKidd), Lord Macintosh (Craig Ferguson) and Lord Dingwall (Robbie Coltrane). Merida accidentally create confusion and anger in the kingdom, and when he needs help Witch (Julie Walters) esentrik old, Merida instead faced a terrible fate. Merida further danger forces him to find the courage to fight the curse before it's too late
|
A Place In The World
Minggu, 24 Juni 2012
movie reviews -BRAVE-
Sabtu, 23 Juni 2012
Giver False Hope.
This word became popular among teenagers Indonesia since two months ago.
What does it mean?
Not far away from the love story.
Gfalse hope is the kind of person who always to be nice to opposite gender.
ie there is a girl.
he's got a new friend (a guy)
the guy is showing his attention to the girl.
As if the guy likes this girl.
A day, weeks, months
The girl grew to love the guy.
Only he who thinks of the girl every night.
Which is always comes in her dream.
And, when the girl says that she loves the guy, the guy was silent, even going away from the life of the girl.
The girl was crying and begging to God to restore the boy to her.
No answer.
Yes, this story of the broken-hearted girl
This word became popular among teenagers Indonesia since two months ago.
What does it mean?
Not far away from the love story.
Gfalse hope is the kind of person who always to be nice to opposite gender.
ie there is a girl.
he's got a new friend (a guy)
the guy is showing his attention to the girl.
As if the guy likes this girl.
A day, weeks, months
The girl grew to love the guy.
Only he who thinks of the girl every night.
Which is always comes in her dream.
And, when the girl says that she loves the guy, the guy was silent, even going away from the life of the girl.
The girl was crying and begging to God to restore the boy to her.
No answer.
Yes, this story of the broken-hearted girl
Tangga Lagu Barat Terbaru 2012
Tangga Lagu Barat HOT 100 Terbaru - 2012
- Carly Rae Jepsen – call me maybe
- Gotye Featuring Kimbra – somebody that i used to know
- Maroon 5 Featuring Wiz Khalifa – payphone
- fun. Featuring Janelle Monae – we are young
- One Direction – what makes you beautiful
- Nicki Minaj – starships
- Flo Rida Featuring Sia – wild ones
- Rihanna – where have you been
- Katy Perry – wide awake
- Justin Bieber – boyfriend
- The Wanted – glad you came
- Pitbull – back in time
- Ellie Goulding – lights
- Usher – scream
- Train – drive by
- Luke Bryan – drunk on you
- Karmin – brokenhearted
- David Guetta Featuring Sia – titanium
- Kelly Clarkson – stronger (what doesnt kill you)
- Eric Church – springsteen
- Kanye West – mercy
- Justin Bieber Featuring Ludacris – all around the world
- Calvin Harris – feel so close
- Drake Featuring Lil Wayne – the motto
- Drake Featuring Rihanna – take care
- Jason Mraz – i wont give up
- Carrie Underwood – good girl
- Kirko Bangz – drank in my cup
- Play Hard – work hard
- Neon Trees – everybody talks
- Katy Perry – part of me
- Kenny Chesney – come over
- Adele – rumour has it
- Demi Lovato – give your heart a break
- Kip Moore – somethin bout a truck
- Gym Class Heroes Featuring Ryan Tedder – the fighter
- Ca$h Out – cashin out
- Lil Wayne Featuring Big Sean – my homies still
- Eli Young Band – even if it breaks your heart
- Usher – climax
- Tyga Featuring Lil Wayne – faded
- Rihanna Featuring Calvin Harris – we found love
- Adele – set fire to the rain
- Rihanna Featuring Chris Brown – birthday cake
- LMFAO Featuring Lauren Bennett & GoonRock – party rock anthem
- LMFAO – sexy and i know it
- fun. – some nights
- Dierks Bentley – 5-1-5-0
- Flo Rida – good feeling
- Brantley Gilbert – you dont know her like i do
- Little Big Town – pontoon
- Nicki Minaj Featuring 2 Chainz – beez in the trap
- Havana Brown Featuring Pitbull – we run the night
- One Direction – one thing
- Gloriana – (kissed you) good night
- Trey Songz – heart attack
- Jason Aldean – fly over states
- Calvin Harris Featuring Ne-Yo – lets go
- Toby Keith – beers ago
- Young Jeezy Featuring Ne-Yo – leave you alone
- Hunter Hayes – wanted
- Drake Featuring Lil Wayne – hyfr (hell yeah f*****g right)
- Zac Brown Band – no hurry
- Grouplove – tongue tied
- Jennifer Lopez Featuring Pitbull – dance again
- Linkin Park – burn it down
- 2 Chainz Featuring Drake – no lie
- B.o.B Featuring Taylor Swift – both of us
- Love And Theft – angel eyes
- The Band Perry – postcard from paris
- DJ Khaled Featuring Chris Brown – take it to the head
- Waka Flocka Flame Featuring Nicki Minaj – get low
- J. Cole Featuring Missy Elliott – nobodys perfect
- Jana Kramer – why ya wanna
- Alex Clare – too close
- LoveRance Featuring IamSu & Skipper or 50 Cent – up!
- Travis Porter Featuring Tyga – ayy ladies
- Josh Turner – time is love
- Of Monsters And Men – little talks
- Usher Featuring Rick Ross – lemme see
- Nicki Minaj Featuring Chris Brown – right by my side
- Drake Featuring The Weeknd – crew love
- Keith Urban – for you
- B.o.B – so good
- Rita Ora – how we do (party)
- Dustin Lynch – cowboys and angels
- Taylor Swift – eyes open
- M83. – midnight city
- Chris Brown – turn up the music
- The Lumineers – ho hey
- The Wanted – chasing the sun
- Justin Bieber – die in your arms
- Imagine Dragons – its time
- John Mayer – shadow days
- Andy Grammer – fine by me
- Future – same damn time
- The Black Keys – gold on the ceiling
- Rascal Flatts – banjo
- Phillip Phillips – home
- Thompson Square – glass
Senin, 04 Juni 2012
7 AMPLOP BIRU LAUT
TUJUH AMPLOP BIRU LAUT
Author: Genia Karolina
Namaku Ashraf. Musik adalah cinta pertamaku sejak aku
dilahirkan 16 tahun lalu. Musik yang pertama keluar dari mulut kecilku tak
lebih dari la...la...la...la... dan ayahku memberikan apresiasi yang layak kepada
putra bungsunya dengan bertepuk tangan. Ada perasaan bangga yang memuncak dikala
aku diberi applause. Umurku 7 tahun saat ayah memperkenalkan gitar padaku.
Gitar kecil yang pas denganku. Kupetik satu senarnya, kurasakan sensasi hebat.
Ayahku bilang tubuhku bersinar saat itu. Ah, tentu saja ayah berbohong. Dia
hanya ingin aku tertarik pada gitar. Ayah bilang, laki-laki harus bisa bermain
gitar. Tak perlu disuruh, ku mainkan gitar itu sekenanya. Hanya melodi-melodi
ringan yang membuat ayah ibuku tertawa. Betapa lucunya saat aku memainkan
sesuatu yang begitu asing bagiku. Tapi aku terus belajar memainkannya. Kakak-kakakku
bergantian mengajari. Karena, ayah
sedang berada di Pakistan setelah mendapat kabar bahwa nenekku sakit keras. Hitungan
minggu, bulan, tahun, ayahku tak kunjung datang. Di ulangtahunku yang kesepuluh,
tanpa kehadiran sang ayah, ku persembahkan sebuah lagu untuk ibuku. Judulnya
‘Bunda’. Dengan suara emasku serta petikan gitar yang ku pelajari dari kakak,
ku buat ibuku menangis haru. Saat berakhirnya lagu tak kuasa ku tahan air mata,
dan aku menumpahkan semuanya di baju terbaik ibuku saat ku peluk dirinya.
Suasana haru memenuhi pesta ulangtahunku dalam beberapa menit.
Beberapa tahun aku belajar, saatnya mempraktikkan ilmuku.
Ya, aku telah menjadi seorang remaja. Namaku tercatat sebagai siswa di SMA
favorit kota ini. aku dijadikan anak emas oleh guru kesenian. Setiap diadakan
perlombaan aku diikutsertakan. Aku selalu pulang membawa piala. Kepiawaianku
bernyayi dan memetik gitar ditambah lagi paras Pakistan yang berkarakter
berpadu wajah melayu nan ramah membuatku terkenal di sekolah. Karena itu aku
punya banyak teman dengan beragam sifat. Seperti anak pada umumnya, di tahun
pertama aku masih bersikap manis, tak berani macam-macam. Tahun kedua disekolah
sikapku mulai berubah. Seperti anak laki-laki lain, aku pernah bolos,
bertengkar, dan tentu saja, menyukai perempuan. Namanya Suci, gadis imut
berambut lurus lembut dari kelas sebelah. Pembawaannya tenang, lemah-lembut,
ramah, berwajah oriental yang pipinya selalu bersemu merah. Pagi ini aku
sengaja lewat di depan kelasnya.
“Hey, teman, apa Suci sudah datang?” tanyaku pada gadis
yang duduk di kursi koridor.
“...” anak perempuan yang tak ku sangka seorang perempuan
itu tak menjawab, bahkan tak melirik sedikitpun. Terlalu fokus dengan apa yang ia
ketik di komputer jinjingnya.
“Apa suci sudah datang?” kuulangi lagi. Mungkin saja ia
tak mendengar.
Sedetik ia menatapku, lalu kembali ke laptopnya. aku
sungguh tak mengerti apa maksud diamnya itu. Tak mungkin sekolah sepopuler ini
memiliki murid tunawicara. Nadine Iskandar, perilaku dan parasnya tak secantik
namanya. Ku tinggalkan dia dan membawa pergi kemarahanku.
Sebelum masuk kelas, ku buka loker dengan kode rahasia.
Sebuah amplop biru laut melayang dan mendarat di sepatuku. Lama aku terpaku.
Setengah ragu, ku bawa surat itu sambil berlari ke taman belakang. Kutinggalkan
tas dan loker yang terbuka.
‘Untuk ashraf, bintang sirius-ku’ terukir indah dengan
tulisan halus kasar. Lama ku pandangi rangkaian kata indah itu. Tenggelam
sementara, lalu ku tersadar tempat ini terlalu ramai untuk membaca surat cinta
pertamaku. tak jauh berjalan ku temukan pohon rindang, sesak dengan belukar
disekelilingnya. Tanpa ampun, ku timpa rerumputan liar dengan berat tubuhku.
Perlahan ku buka amplop biru laut, terlihat kertas tebal berwarna krem, dengan
bau khas kertas kelas atas. Kata demi kata ku baca dan kuserapi. Sama seperti
kertas yang menyerap tinta pena saat gadis ini menulis surat cinta yang sedang
kubaca. Tulisan tegak bersambungnya menguraikan kesempurnaanku dimatanya. Kalimat-kalimat
indahnya menunjukkan betapa ia sangat memujaku. Bercak-bercak kuning di kertas,
melukiskan titik-titik air matanya yang jatuh saat ia menuliskan sebesar apa
cintanya padaku. Semakin jauh aku tenggelam, air mataku makin terkuras habis.
Rangkaian katanya seperti puisi sedih patah hati. Air mataku jatuh dan
membentuk bercak kuning berpasangan dengan bekas air matanya. Di tiap paragraf
tak kujumpai nama si gadis penulis surat romantis. Ah, akhirnya aku terbangun
setelah bel jam pertama menjerit nyaring. Ku simpan surat si gadis di saku bajuku
sembari aku berlari. membayangkan wajah pak Amir yang garang membuatku terus
berlari. terlambat di kelasnya, akan dihadiahi setumpuk pekerjaan rumah yang tak
mudah. Harus lebih cepat ashraf. Ah, malangnya, aku tak sengaja menabrak
seseorang hingga terjatuh. Dia, si gadis tunawicara di koridor kelas Suci tadi
pagi. Wajahnya meringis kesakitan sambil memegang lengan kanannya.
“Maaf, sungguh aku tak sengaja.” Aku berlutut dan
membantunya berdiri.
“...” dalam diam, ia menepis tanganku di bahunya. Berlari
sampir menangis.
Tak ambil pusing, aku berlari menuju kelas. Fiuh,
syukurlah pak Amir berhalangan hadir, rapat guru seperti biasa. ah, aku lupa.
Tas ku tergeletak di depan loker yang terbuka. Gara-gara surat cinta.
Jam istirahat, ku temukan lagi amplop berwarna sama.
Jenis tulisan berbeda namun intinya tetap memujaku. Dan memintaku bernyanyi di
koridor di jam istirahat makan siang. Ah, gadis yang penuh teka-teki. Menarik. Tak
sabar menunggu jam istirahat. Konsentrasi belajarku hanya 13%. Dua mataku sudah
merah berkedip-kedip seperti laptop dengan baterai lemah. Aku melempar pandang
keluar jendela. Tak sengaja aku melihat gadis tunawicara yang ku tabrak tadi.
Tampak ia sedang memandang ke arahku dengan tatapan sedih. Ku tak tahu apa
maunya. Aku mulai terganggu olehnya. Rambut cokelat ikalnya yang tak disisir
dikuncir kuda pada bagian bawah kepala. Seragamnya yang sangat longgar
memperburuk penampilannya. Kacamata bulat yang bertengger diujung hidung,
mengesankan sifat kikuknya. Satu kata. Menyeramkan. Beda sekali dengan Suci. Ah
ya, suci. Aku akan bernyanyi di depan kelasnya. Siapa tahu dialah si penulis
surat cinta manis.
Bel istirahat makan siang yang lama ku tunggu akhirnya
berbunyi riang. Ku pinjam gitar seorang teman, lalu berlari ke kelas Suci. Agar
tak memalukan, aku duduk di kursi koridor. Aku mulai memainkan gitar, banyak
murid yang berkumpul disekitarku. Semakin ku hayati lagu, para penonton makin
terpesona dan menitikkan air mata. Ah, lagu galau ini semoga didengarkan Suci.
Dengan berakhirnya lagu, aku disambut dengan tepuk tangan dan lemparan
bunga-bunga segar yang baru dipetik di pekarangan, dan sebuah amplop biru laut yang
ke 3.
Kubawa amplop ke 3 ke pohon rindang tempatku membuka
surat pertama. Ku baca dengan hati-hati. Ah, gadis ini mengomentari
penampilanku tadi. Lucu sekali, dia masih punya kata-kata lain untuk memujiku.
Aduh, seberapa mempesonakah gadis ini. tak sabar ingin berjumpa. Aku, si
bintang sirius-nya, sangat menyukainya, menyukai tulisannya.
***
Pukul 16 aku tiba dirumah. Ku biarkan tas dan seragam mendarat
di lantai. Ku lempar tubuhku ke atas tempat tidur. Lima menit aku memejamkan
mata. Aku dibangunkan oleh tangisan ibuku yang melengking tinggi. Refleks, aku
berlari menuju asal suara. Saat turun dari tangga, ku lihat ibuku terduduk
lemas dengan gagang telpon tergeletak di lantai.
“Bunda, ada apa?” aku berlutut.
Ibuku masih menangis dengan pandangan kosong. Perlahan,
ku letakkan gagang telpon tepat di telinga kiriku.
“Hello, hello, somebody there?”[1]
bahasa asing yang ku dengar dari seberang telpon.
“Yeah, it’s me, Ashraf, who’s there?”[2] ku
jawab dengan ragu.
Orang diseberang telpon berbicara tergesa-gesa.
mengirimkan kabar duka yang tak disangka-sangka. Ayahku, Salman Al-Rasyid,
seorang dokter, ditemukan meninggal di halaman sebuah rumah sakit Palestina
dengan 3 luka tembak. Aku menggigil menahan tangis. Ku sudahi pembicaraan
dengan kata-kata sopan. Baru ku tahu, seseorang di seberang telpon itu ternyata
pamanku, berkali-kali iamengucap kata maaf dan sesal. Ibuku masih meratap sedih.
aku merangkak mendekat lalu ku peluk ia. Air mata wanita tegar ini tumpah ruah
membanjiri seragamku. Soreku yang tenang hancur berantakan.
***
Palestina? Apa yang dicari ayahku di negeri konflik itu? Setiap
bulan ayah menghubungi kami lewat skype[3].
Tak sedikitpun ia singgung negara itu. Setahuku ia sedang di pakistan,
bekerjasama dengan dokter lokal merawat nenekku yang sakit keras. Setumpuk pertanyaan
sudah kusiapkan untuk ibuku. Tapi ini bukan saat yang tepat. Ibu sedang
memeriksakan diri ke rumah sakit ditemani kak reyhan. Kabar duka tadi berdampak
buruk bagi kesehatannya. Kak Sofie sudah 2 hari tak pulang. Di dalam
kesendirian, hanya rintik-rintik hujan dan sambaran petir yang setia
menemaniku.
Aku berusaha tidur dan melupakan surat cinta biru, dan
berita haru di hari kelabu. lima menit mataku terpejam. Alarm tanda email[4]
masuk bersaing dengan gemuruh hujan diluar. terhuyung aku menuju meja komputer
di sudut kamar. Satu pesan dari email hipogriffelpuff@rocketmail.com.
Oh, ternyata surat cinta ke 4 dari gadis yang sama. Kali ini tak beramplop
biru. Hanya saja warna tulisannya biru laut. Ku baca sekilas. Isinya tak jauh
dari surat-surat sebelumnya. Sebaiknya ku balas.
Jemariku menari lincah di keyboard. Di paragraf pertama
ku ucapkan terimakasih karena telah menaruh hati padaku. Hidupku yang
berantakan sejak dua jam yang lalu turut ku ceritakan di paragraf kedua.
Paragraf terakhir ku sampaikan keinginanku untuk bertemu dengan gadis penulis 4
surat cinta ini. selesai. Beberapa detik ku tunggu, surat gagal dikirim.
***
Tiga hari libur duka, aku kembali ke sekolah. Di gerbang
sekolah, teman-teman dan beberapa guru mengucapkan turut berduka
sedalam-dalamnya atas kepergian ayahku, yang bahkan tak mereka kenal. Aku
berjalan lunglai menuju kelas. Di koridor aku berpapasan dengan si gadis bisu.
Sepersekian detik mata kami bertemu. Mataku menyiratkan rasa kebencian yang
amat besar kepadanya. Tak tau apa sebabnya.
Dengan menunduk, aku masuk kelas dan meminta maaf atas keterlambatanku.
Guru yang sedang mengajar berbaik hati mempersilahkanku masuk. Tak lama, sang
guru memanggil nama kami satu per satu. Oh, pengembalian buku latihan, seperti
biasa.
“Ashraf Al-Rasyid.” Namaku dipanggil. Aku berjalan
mendekat.
“Ibu turut prihatin dengan keadaan ayahmu. Kamu harus
tabah menghadapi ujian tuhan. Yang sabar ya nak”
Ku ucapkan terimakasih dengan wajah sendu. Aku tak
penasaran dengan nilaiku. Rata-rata nilaiku tak pernah kurang dari 9. Yang
membuatku penasaran, amplop biru laut yang terselip di dalamnya. Surat cinta ke
5. Suratnya tak berisi banyak. Si gadis menulis seberapa menderitanya ia
melihatku murung. Tak lupa mengucapkan duka cita mendalam atas meninggalnya
ayahku. Kali ini dia menyertakan catatan kunci gitar ‘Ayah’, diciptakan oleh
band ‘Seventeen’. Wah, dia juga memberiku tiket konser amal yang diadakan esok
petang. Di sudut kiri bawah surat, si gadis menuliskan bahwa ia akan tampil di
urutan ke 7 di konser tersebut dan menunggu kehadiranku. Dalam hati aku
berjanji akan datang.
***
Hari minggu aku dan si pengirim amplop biru akan bertemu.
Satu jam sebelum konser di mulai aku sudah menempati kursiku. Sepintas ku lihat
si gadis bisu berjalan canggung ke belakang panggung. Kontak mata terjadi lagi.
Kali ini aku membuang muka.
Satu demi satu susunan acara telah berlangsung. Pembawa
acara mempersilahkan pengisi acara nomor 7 memasuki panggung. Ini dia. Dengan sepatu
hak setinggi lima senti, melangkah dengan hati-hati. Dibalut gaun biru laut
yang sederhana, sigadis tampil mempesona. Tali gitar akustik coklat tua
tergantung indah di bahunya. Ku tak yakin dengan penglihatanku. Rambut cokelat
ikal halus jatuh sampai ke punggung. poni daun si gadis agak menutupi mata
kanannya. Aku mengangga terpesona. Ia melantunkan lagu barat yang tak ku kenal.
Namun tetap saja aku tersihir oleh suara merdu sang pengirim amplop sewarna
dengan laut nan biru. Dua detik kami saling pandang dan bertukar senyum. Malangnya,
aku tak sempat bertemu dengannya di belakang panggung. Anehnya aku berpapasan
dengan gadis bisu saat ia keluar dari belakang gedung.
Malam hari yang cerah di balkon kamar. Aku menikmati
secangkir teh hangat di temani langit berhias jutaan bintang. Buku astronomi
yang baru ku beli menuntun jari telunjukku ke koordinat bintang sirius yang
sedang berkelap-kelip terang dan membuatku senang. Oh, baru ku tahu, ternyata
sirius adalah rasi bintang. Dulu aku tak peduli dengan pemandangan indah ini.
dikala malam, saat aku mendongakkan kepala, yang kulihat adalah selembar kain
gelap yang penuh bintik-bintik seperti ketombe. Tapi sekarang berbeda. Di
langit malam bisa ku lihat betapa mengagumkannya ciptaan tuhan. Bagaimana bisa
bintang-bintang yang besarnya 30 kali diameter bumi, tampak seperti intan yang
sangat kecil bila dilihat dari permukaan bumi? Tuhan sungguh maha pencipta.
***
Senin. Aku benci Senin. Pelajaran sulit dan tugas
bertumpuk di hari Senin. Tak sabar ku dengar bel tanda isirahat. Jam istirahat
aku menemukan amplop biru laut ke 6 di ruang musik. Di temukan oleh salah satu
personil band-ku di atas drum. Si gadis mungkin tak tahu aku seorang gitaris.
Surat cinta itu sempat membuat heboh teman-teman band-ku. Saat ku bilang itu
surat keenam yang aku terima, mereka spontan memelukku.
***
Pagi hari sebelum berangkat sekolah, ku sempatkan membuka
kotak surat. Mungkin tak ada buatku. Setidaknya ada surat tagihan yang harus
dibayar ibu. Tepat dugaanku, hanya surat tagihan listrik, air, telpon, dan
kartu kredit. Tak ada amplop biru laut. Hari ini langit mendung. Sinar mentari
tak sanggup menembus pekatnya awan. Ibu tak mengizinkanku menggunakan motor.
Aku menolak ketika kak Sofie menawarkan diri mengantarku ke sekolah. kata ibu,
dia pulang tengah malam dalam keadaan mabuk. Takkan ku biarkan dia menyetir. Akhirnya,
dengan berat hati kak Reyhan mengantarku ke sekolah. sesaat aku masuk kelas,
hujan deras tanpa ampun turun menghujam permukaan bumi. Kenapa bumi bersedih
hari ini? entahlah.
Aku duduk manis di kursi depan kelas Suci. Aku memetik senar
gitar untuk menghilangkan kebosananku menunggu.. Sialnya aku, Suci dengan wajah
ceria menggandeng seorang laki-laki. Murid paling tajir dan populer di sekolah.
Maklum, ayahnya beberapa kali muncul di halaman depan koran lokal karena
korupsi yang dilakukan. Sekarang tercatat sebagai tahanan di rutan kota ini.
setidaknya tuan tajir masih punya ayah. Sedangkan aku? Ayah tak ada, kekasih
pun tak punya.
Suci, gadis pujaanku, tak sedetikpun melirik saat
melintas di depanku. Sejumlah email yang ku kirim tak pernah di balas. BBM[5]
dari ku di baca pun tidak. Bahkan tak mau menyapa, walau aku baru di tinggal
pergi ayah tercinta. Ku nyanyikan lagu patah hati yang membuat orang yang lewat
berhenti. Ku kabarkan hatiku yang pilu dengan lagu sendu. Semakin kuhayati semakin
mengiris hati. Di akhir lagu, seorang murid laki-laki spontan membaca puisi
patah hati. Ku iringi dengan petikan gitar yang membuat hati bergetar. Semua
menangis pilu, suasana mengharu biru. Tangisan dan tepuk tangan berpadu jadi
satu.
***
Aku pulang ke rumah menumpang seorang teman. Beberapa
langkah dari pagar, seseorang memanggilku. Sambil menahan tangis, pemuda
seumuran kak Reyhan memberiku amplop biru laut ukuran besar, dan menghadiahiku
pelukan penyemangat. Aku tak tahu apa maksudnya. Ku ucapkan terimakasih. Di
kamar, dengan tergesa ku buka amplop biru yang ku tunggu. Aku mulai membaca.
Ashraf, bintang
Sirius-ku,
Ini adalah surat
ketujuh yang ku kirim padamu. Entah kamu menghitung atau tidak. Aku berharap
kamu membacanya walau kemudian mungkin,kamu membuangnya.
Tadi siang, ku
lihat matamu sembab. Sinar matamu seketika redup. Ku lihat masih tersisa
sebutir air bening di sudut matamu. Senyummu yang mempesona seakan terhapus
dari wajahmu. Dengan garang kamu meremas kaleng minuman dengan satu tangan.
Aku sedih
melihatmu seperti itu. Ada apa denganmu? Andai aku tahu masalahmu, aku pasti
membantu. Kamupun tak mungkin bercerita padaku karena kamu tak tahu siapa
sebenarnya diriku.
Aku memang pengecut.
Tak sekalipun ku sapa dirimu saat di sekolah. Ya, kita pernah bertemu di konser
amal. Itu aku dengan penampilan lain, bukan yang sebenarnya. Jika kita bertemu,
pasti kamu akan menyesal telah mengenalku. Aku tahu, surat-surat yang telah ku
kirim membuatmu menyukaiku, lebih tepatnya menyukai tulisanku dan mulai mencari
tahu siapa aku.
Aku sangat
mengenalmu, Ashraf. Aku lebih mengenalmu daripada mengenal diriku. Terdengar
ekstrem? Mungkin bagimu. Itu karena aku sangat mengagumimu. Bukan kagumnya
seorang fans, Ashraf. Sungguh aku menyayangimu. Menyayangimu melebihi
menyayangi diriku sendiri. Karena itu, sebisa mungkin aku membantumu tanpa
sepengetahuanmu.
Ingat ketika kamu
dikeroyok senior yang menuduhmu merayu pacarnya? Baju seragammu dilepas dan
dibuang ke kolam berlumpur di belakang sekolah. Kamu terlihat pasrah dan
melarikan diri ke kamar mandi. Aku berlari masuk kelas dan mengambil baju
seragamku yang untungnya tak berlabel nama dan menggantungnya di pintu toilet
tempat kamu meratapi kesialanmu. Kemudian aku lari sekencang mungkin agar tak
terlihat olehmu. Aku yang memakai baju olahraga masuk ke kolam lumpur mencari
bajumu. Untungnya kolam hanya setinggi lututku. Aku terus mengaduk-aduk lumpur,
meraba-raba hingga dasarnya mencari baju seragam itu. Aku tak peduli berapa
banyak siswa menertawaiku dan menganggapku frustasi. Tepat tengah hari akhirnya
ku temukan baju seragammu. Ku cuci dengan air bersih. Nodanya tak mau hilang.
Yah, apa boleh buat,ku cuci di rumah saja. ketika aku masuk kelas, aku dimarahi
karena mengenakan pakaian olahraga diluar jam olahraga. Setiap guru yang masuk
mengomentari kesalahanku itu.
Setengah mati aku
mencuci seragam penuh lumpur itu sampai tanganku sakit. Setelah kering,
kemudian ku setrika. Tepat pukul enam, ku letakkan seragam yang telah ku
bungkus rapi di teras rumahmu.tak lupa ku sertai secarik kertas berisikan
‘untuk Ashraf, ku harap kamu menghindari mereka’. Ku tekan bel, dan berlari
masuk ke mobil.
Ashraf, bintang Siriusku,
Surat ketujuh ini
adalah surat terakhir dariku. Tentu aku ingin terus mengirimimu amplop biru
laut itu. Namun, aku sudah tak sanggup menulis lagi. Tubuhku kini telah lelah
menopang hidupku sendiri. Aku sakit. Beberapa organ dalm tubuhku hancur
perlahan digerogoti penyakitku ini. tadi siang, mungkin, adalah hari terakhirku
melihatmu walau dari balik jendela mobil. Itu berkat kakak laki-laki ku yang
baik, yang mau mengantarku melihat paras Pakistan-Melayu mu untuk terakhir
kali.
Sekarang, kamu
sedang membaca surat terakhir yang diantar langsung oleh kakakku. Apa tadi
kakakku menangis? Oh, ya. Apa dia juga bilang kamu jangan buka amplop biru laut
yang bercorak bunga lili sebelum membaca surat ini? terimakasih telah mengikuti
peraturannya.
Hm, kamu penasaran
siapa aku? Tenang saja, aku takkan membuatmu penasaran seumur hidup. Sekarang,
silahkan kamu buka amplop biru laut dengan corak bunga lili itu. Kamu akan tahu
siapa sebenarnya aku. Tapi kamu takkan pernah melihat gadis yang ada di foto
dan video rekaman di amplop itu. Kini aku sudah jauh pergi ke tempat di mana
aku takkan pernah bisa mengirimkan amplop biru laut padamu lagi. Dari sana, aku
hanya bisa melihatmu membaca surat ini dari alam tak terjamah.
Jangan menangis.
Saat ayahmu pergi ke dunia yang sama sepertiku, kamu tak menangis kan? Jadilah tegar
layaknya bintang sirius. Ashraf, saat awan gelap menghalangi sinar bintang
lain, bintang sirius tetap mampu memperlihatkan keindahannya. Aku mau kamu
seperti bintang sirius, yang tetap berkilau walau sial menghalau. Yakinlah
bahwa kelak kita akan bertemu di alam keabadian. Dan kemudian akhirnya kamu mau
tersenyum padaku dan tak menatapku sinis seperti waktu dulu.
Pengagum rahasiamu,
Nadine Iskandar
***
Ku pandangi satu demi satu foto si gadis pengirim amplop
biru laut, Nadine Iskandar. Gadis bisu yang sering ku remehkan, ternyata
seorang gadis cantik pemilik suara emas dan gitaris yang jenius. Sungguh tak ku
sangka semuanya jadi begini. Tak ada yang bisa ku lakukan. Takkan ada Nadine Iskandar
lain di dunia ini. kini aku menangis, benar-benar menangis. Di dalam tangisku
aku meminta maaf atas perilaku burukku terhadapnya. Nadine, terimakasih telah
mengirimkan 7 amplop biru laut padaku. Selamat jalan, gadis biru laut-ku.**
Biodata Penulis
Nama : Genia Karolina Sinulingga
Alamat Rumah :
perumahan Bougenville Blok EO No. 3 Simpang Rimbo
No. Handphone :
082374421926
Asal sekolah :
SMA N 1 Kota Jambi
Alamat sekolah :
jalan Jendral Urip Sumoharjo No. 15 Telanai Pura Jambi
No telp sekolah :
(0741) 63147
Guru pembimbing :
Prima Enita, S.Pd
Senin, 19 Desember 2011
?
Prolog
“Lucky I’m in love with my bestfriend
Lucky to have been when I have been
Lucky to be coming home again..”
Petikan gitar dikimbinasikan dengan suara khas pemenang kontes nyanyi di manapun ia berada (menurut gue!), sanggup nge-silent mulut-mulut judes cewe-cewe di kelas . dimanapun dia nyangkut, orang-orang pada terpana liat dia nyanyi. Semua orang diem, melototi dengan saksama, ato ngikut nyanyi juga (back vokal gitu..), ya termasuk gue. Gue 100% yakin kalo suaranya di jadiin alarm maling, tu maling bakal ketangkep, diem terpana geto booo...
“Gin, kamu kenapa, melamun ya?” Bisik Melin, mungkin takut buat gue malu makanya bisik-bisik.
“ duh Mel, lo kok pake nanya sih? Tuh liat siapa yang gelar konser?” Timpal Ulan sambil nunjuk-nunjuk ke arah ‘seseorang yang dikerubungi banyak orang’.
“...”
“eh, lemot, tuh si Anda, gebetan Ginny lagi nyanyi tauk. ” Ulan sewot
Gue bangun dari lamunan
“Nenek lo ayan, gebetan gue... asbun aja lo.” Giliran gue yang sewot
Semua nyengir (kecuali gue)
“ ya maap ciiinnn, capcuz.” Ulan melucu, gue menetapkan pilihan pada ‘tetep berwajah sewot’.
Hening. Ga ada yang ketawa ataopun Cuma nanggepi. Kalo gue udah marah, ga ada yang mau berkoar banyak. Takut menimbulkan sesuatu yang lebih buruk semisal ketindih meteor, Tsunami, Ulangan Remedial ato pup di celana.
“ asalamualaikum, Ginny.” Sapa Nabil dan Nia masuk ke kelas gue,Nabil sambil dadah-dadah.
“waalaikumsalam, Nabil, apa kabar? Cie yang baru pake jilbab.” Jawab Melin dengan riang. Gue heran. Yang disapa gue yang jawab laen.
“ dia kenapa?” setengah berbisik pada Melin.
“ Bad mood.” Melin bisik-bisik juga
“...”
“Eh, kita ke musola aja yuk, selonjoran.” Nia mencoba mencairkan suasana.
Inilah kekurangajaran kami sodarah-sodarah. Mentang-mentang anak rohis dikasi ijin lebih lama berada di musola, kami dengan manisnya memenfaatkan fasilitas itu untuk suatu kejahatan yang disebut ‘selonjoran’ atau kadang ‘ngadem’ tidak jarang pula ‘ngorok’ sodarah-sodarah. Saat itu juga kami berlima menuju musola tapi mentok belok kanan ke kantin dulu. Kaga enak nyantai-nyantai tanpa camilan kan sodarah-sodarah?
Rabu, 14 Desember 2011
kenalan yok
assalamualaikum, guys...
ini gue gegen, nyang ngendep di blog ini.
akhirnya kesampean juga punya blog (alhamdulillah ya Allah!! sujud-sujud hebooh, jidat gue tambah jenong).
gue udah SMA kelas XI (ga terlalu kecil untuk punya blog), berdomisili di Jambi, ga punya suami.
gue lebih seneng maen di kamar gue, ato ngenet gratis manfaatin wifi di sekola ato kantor mak gue,,
kadang-kadang gue maling DVD n' novel sgede batu alam dari rumah sahabat gue, Atika PD (sampe sekarang gue ga tau blog-nya apaan).
jelek-jelek gini, gue ada jabatan di Rohis sekola, Rohis paling gede di Jambi (katanya).
sodarah-sodarah sekalian pasti heran ko anak berperangai ala gembel gini bisa mendep di musola seharian?
sialnya gue juga ga tau kenapah.
menyandang status sebagai anak rohis, gue ga pacaran, ga akan pernah.
gue janji, gak bakal buat blog ini garing kaya kerupuk di kasi boraks.
kalo ada yang mo koment ato ngasi kritik dan saran, silahkan nduk...
ke imel ato pesbuk, ato tuiter.
alamatnya sama : geniacarolina@gmail.com
makesong, merci..
samekumm,,,,
ini gue gegen, nyang ngendep di blog ini.
akhirnya kesampean juga punya blog (alhamdulillah ya Allah!! sujud-sujud hebooh, jidat gue tambah jenong).
gue udah SMA kelas XI (ga terlalu kecil untuk punya blog), berdomisili di Jambi, ga punya suami.
gue lebih seneng maen di kamar gue, ato ngenet gratis manfaatin wifi di sekola ato kantor mak gue,,
kadang-kadang gue maling DVD n' novel sgede batu alam dari rumah sahabat gue, Atika PD (sampe sekarang gue ga tau blog-nya apaan).
jelek-jelek gini, gue ada jabatan di Rohis sekola, Rohis paling gede di Jambi (katanya).
sodarah-sodarah sekalian pasti heran ko anak berperangai ala gembel gini bisa mendep di musola seharian?
sialnya gue juga ga tau kenapah.
menyandang status sebagai anak rohis, gue ga pacaran, ga akan pernah.
gue janji, gak bakal buat blog ini garing kaya kerupuk di kasi boraks.
kalo ada yang mo koment ato ngasi kritik dan saran, silahkan nduk...
ke imel ato pesbuk, ato tuiter.
alamatnya sama : geniacarolina@gmail.com
makesong, merci..
samekumm,,,,
Langganan:
Postingan (Atom)
