Senin, 04 Juni 2012

7 AMPLOP BIRU LAUT



TUJUH AMPLOP BIRU LAUT
Author: Genia Karolina
Namaku Ashraf. Musik adalah cinta pertamaku sejak aku dilahirkan 16 tahun lalu. Musik yang pertama keluar dari mulut kecilku tak lebih dari la...la...la...la... dan ayahku memberikan apresiasi yang layak kepada putra bungsunya dengan bertepuk tangan. Ada perasaan bangga yang memuncak dikala aku diberi applause. Umurku 7 tahun saat ayah memperkenalkan gitar padaku. Gitar kecil yang pas denganku. Kupetik satu senarnya, kurasakan sensasi hebat. Ayahku bilang tubuhku bersinar saat itu. Ah, tentu saja ayah berbohong. Dia hanya ingin aku tertarik pada gitar. Ayah bilang, laki-laki harus bisa bermain gitar. Tak perlu disuruh, ku mainkan gitar itu sekenanya. Hanya melodi-melodi ringan yang membuat ayah ibuku tertawa. Betapa lucunya saat aku memainkan sesuatu yang begitu asing bagiku. Tapi aku terus belajar memainkannya. Kakak-kakakku bergantian mengajari.  Karena, ayah sedang berada di Pakistan setelah mendapat kabar bahwa nenekku sakit keras. Hitungan minggu, bulan, tahun, ayahku tak kunjung datang. Di ulangtahunku yang kesepuluh, tanpa kehadiran sang ayah, ku persembahkan sebuah lagu untuk ibuku. Judulnya ‘Bunda’. Dengan suara emasku serta petikan gitar yang ku pelajari dari kakak, ku buat ibuku menangis haru. Saat berakhirnya lagu tak kuasa ku tahan air mata, dan aku menumpahkan semuanya di baju terbaik ibuku saat ku peluk dirinya. Suasana haru memenuhi pesta ulangtahunku dalam beberapa menit.
Beberapa tahun aku belajar, saatnya mempraktikkan ilmuku. Ya, aku telah menjadi seorang remaja. Namaku tercatat sebagai siswa di SMA favorit kota ini. aku dijadikan anak emas oleh guru kesenian. Setiap diadakan perlombaan aku diikutsertakan. Aku selalu pulang membawa piala. Kepiawaianku bernyayi dan memetik gitar ditambah lagi paras Pakistan yang berkarakter berpadu wajah melayu nan ramah membuatku terkenal di sekolah. Karena itu aku punya banyak teman dengan beragam sifat. Seperti anak pada umumnya, di tahun pertama aku masih bersikap manis, tak berani macam-macam. Tahun kedua disekolah sikapku mulai berubah. Seperti anak laki-laki lain, aku pernah bolos, bertengkar, dan tentu saja, menyukai perempuan. Namanya Suci, gadis imut berambut lurus lembut dari kelas sebelah. Pembawaannya tenang, lemah-lembut, ramah, berwajah oriental yang pipinya selalu bersemu merah. Pagi ini aku sengaja lewat di depan kelasnya.
“Hey, teman, apa Suci sudah datang?” tanyaku pada gadis yang duduk di kursi koridor.
“...” anak perempuan yang tak ku sangka seorang perempuan itu tak menjawab, bahkan tak melirik sedikitpun. Terlalu fokus dengan apa yang ia ketik di komputer jinjingnya.
“Apa suci sudah datang?” kuulangi lagi. Mungkin saja ia tak mendengar.
Sedetik ia menatapku, lalu kembali ke laptopnya. aku sungguh tak mengerti apa maksud diamnya itu. Tak mungkin sekolah sepopuler ini memiliki murid tunawicara. Nadine Iskandar, perilaku dan parasnya tak secantik namanya. Ku tinggalkan dia dan membawa pergi kemarahanku.
Sebelum masuk kelas, ku buka loker dengan kode rahasia. Sebuah amplop biru laut melayang dan mendarat di sepatuku. Lama aku terpaku. Setengah ragu, ku bawa surat itu sambil berlari ke taman belakang. Kutinggalkan tas dan loker yang terbuka.
‘Untuk ashraf, bintang sirius-ku’ terukir indah dengan tulisan halus kasar. Lama ku pandangi rangkaian kata indah itu. Tenggelam sementara, lalu ku tersadar tempat ini terlalu ramai untuk membaca surat cinta pertamaku. tak jauh berjalan ku temukan pohon rindang, sesak dengan belukar disekelilingnya. Tanpa ampun, ku timpa rerumputan liar dengan berat tubuhku. Perlahan ku buka amplop biru laut, terlihat kertas tebal berwarna krem, dengan bau khas kertas kelas atas. Kata demi kata ku baca dan kuserapi. Sama seperti kertas yang menyerap tinta pena saat gadis ini menulis surat cinta yang sedang kubaca. Tulisan tegak bersambungnya menguraikan kesempurnaanku dimatanya. Kalimat-kalimat indahnya menunjukkan betapa ia sangat memujaku. Bercak-bercak kuning di kertas, melukiskan titik-titik air matanya yang jatuh saat ia menuliskan sebesar apa cintanya padaku. Semakin jauh aku tenggelam, air mataku makin terkuras habis. Rangkaian katanya seperti puisi sedih patah hati. Air mataku jatuh dan membentuk bercak kuning berpasangan dengan bekas air matanya. Di tiap paragraf tak kujumpai nama si gadis penulis surat romantis. Ah, akhirnya aku terbangun setelah bel jam pertama menjerit nyaring. Ku simpan surat si gadis di saku bajuku sembari aku berlari. membayangkan wajah pak Amir yang garang membuatku terus berlari. terlambat di kelasnya, akan dihadiahi setumpuk pekerjaan rumah yang tak mudah. Harus lebih cepat ashraf. Ah, malangnya, aku tak sengaja menabrak seseorang hingga terjatuh. Dia, si gadis tunawicara di koridor kelas Suci tadi pagi. Wajahnya meringis kesakitan sambil memegang lengan kanannya.
“Maaf, sungguh aku tak sengaja.” Aku berlutut dan membantunya berdiri.
“...” dalam diam, ia menepis tanganku di bahunya. Berlari sampir menangis.
Tak ambil pusing, aku berlari menuju kelas. Fiuh, syukurlah pak Amir berhalangan hadir, rapat guru seperti biasa. ah, aku lupa. Tas ku tergeletak di depan loker yang terbuka. Gara-gara surat cinta.

Jam istirahat, ku temukan lagi amplop berwarna sama. Jenis tulisan berbeda namun intinya tetap memujaku. Dan memintaku bernyanyi di koridor di jam istirahat makan siang. Ah, gadis yang penuh teka-teki. Menarik. Tak sabar menunggu jam istirahat. Konsentrasi belajarku hanya 13%. Dua mataku sudah merah berkedip-kedip seperti laptop dengan baterai lemah. Aku melempar pandang keluar jendela. Tak sengaja aku melihat gadis tunawicara yang ku tabrak tadi. Tampak ia sedang memandang ke arahku dengan tatapan sedih. Ku tak tahu apa maunya. Aku mulai terganggu olehnya. Rambut cokelat ikalnya yang tak disisir dikuncir kuda pada bagian bawah kepala. Seragamnya yang sangat longgar memperburuk penampilannya. Kacamata bulat yang bertengger diujung hidung, mengesankan sifat kikuknya. Satu kata. Menyeramkan. Beda sekali dengan Suci. Ah ya, suci. Aku akan bernyanyi di depan kelasnya. Siapa tahu dialah si penulis surat cinta manis.
Bel istirahat makan siang yang lama ku tunggu akhirnya berbunyi riang. Ku pinjam gitar seorang teman, lalu berlari ke kelas Suci. Agar tak memalukan, aku duduk di kursi koridor. Aku mulai memainkan gitar, banyak murid yang berkumpul disekitarku. Semakin ku hayati lagu, para penonton makin terpesona dan menitikkan air mata. Ah, lagu galau ini semoga didengarkan Suci. Dengan berakhirnya lagu, aku disambut dengan tepuk tangan dan lemparan bunga-bunga segar yang baru dipetik di pekarangan, dan sebuah amplop biru laut yang ke 3.
Kubawa amplop ke 3 ke pohon rindang tempatku membuka surat pertama. Ku baca dengan hati-hati. Ah, gadis ini mengomentari penampilanku tadi. Lucu sekali, dia masih punya kata-kata lain untuk memujiku. Aduh, seberapa mempesonakah gadis ini. tak sabar ingin berjumpa. Aku, si bintang sirius-nya, sangat menyukainya, menyukai tulisannya.
***
Pukul 16 aku tiba dirumah. Ku biarkan tas dan seragam mendarat di lantai. Ku lempar tubuhku ke atas tempat tidur. Lima menit aku memejamkan mata. Aku dibangunkan oleh tangisan ibuku yang melengking tinggi. Refleks, aku berlari menuju asal suara. Saat turun dari tangga, ku lihat ibuku terduduk lemas dengan gagang telpon tergeletak di lantai.
“Bunda, ada apa?” aku berlutut.
Ibuku masih menangis dengan pandangan kosong. Perlahan, ku letakkan gagang telpon tepat di telinga kiriku.

“Hello, hello, somebody there?”[1] bahasa asing yang ku dengar dari seberang telpon.
“Yeah, it’s me, Ashraf, who’s there?”[2] ku jawab dengan ragu.
Orang diseberang telpon berbicara tergesa-gesa. mengirimkan kabar duka yang tak disangka-sangka. Ayahku, Salman Al-Rasyid, seorang dokter, ditemukan meninggal di halaman sebuah rumah sakit Palestina dengan 3 luka tembak. Aku menggigil menahan tangis. Ku sudahi pembicaraan dengan kata-kata sopan. Baru ku tahu, seseorang di seberang telpon itu ternyata pamanku, berkali-kali iamengucap kata maaf dan sesal. Ibuku masih meratap sedih. aku merangkak mendekat lalu ku peluk ia. Air mata wanita tegar ini tumpah ruah membanjiri seragamku. Soreku yang tenang hancur berantakan.
***
Palestina? Apa yang dicari ayahku di negeri konflik itu? Setiap bulan ayah menghubungi kami lewat skype[3]. Tak sedikitpun ia singgung negara itu. Setahuku ia sedang di pakistan, bekerjasama dengan dokter lokal merawat nenekku yang sakit keras. Setumpuk pertanyaan sudah kusiapkan untuk ibuku. Tapi ini bukan saat yang tepat. Ibu sedang memeriksakan diri ke rumah sakit ditemani kak reyhan. Kabar duka tadi berdampak buruk bagi kesehatannya. Kak Sofie sudah 2 hari tak pulang. Di dalam kesendirian, hanya rintik-rintik hujan dan sambaran petir yang setia menemaniku.
Aku berusaha tidur dan melupakan surat cinta biru, dan berita haru di hari kelabu. lima menit mataku terpejam. Alarm tanda email[4] masuk bersaing dengan gemuruh hujan diluar. terhuyung aku menuju meja komputer di sudut kamar. Satu pesan dari email hipogriffelpuff@rocketmail.com. Oh, ternyata surat cinta ke 4 dari gadis yang sama. Kali ini tak beramplop biru. Hanya saja warna tulisannya biru laut. Ku baca sekilas. Isinya tak jauh dari surat-surat sebelumnya. Sebaiknya ku balas.
Jemariku menari lincah di keyboard. Di paragraf pertama ku ucapkan terimakasih karena telah menaruh hati padaku. Hidupku yang berantakan sejak dua jam yang lalu turut ku ceritakan di paragraf kedua. Paragraf terakhir ku sampaikan keinginanku untuk bertemu dengan gadis penulis 4 surat cinta ini. selesai. Beberapa detik ku tunggu, surat gagal dikirim.
***
Tiga hari libur duka, aku kembali ke sekolah. Di gerbang sekolah, teman-teman dan beberapa guru mengucapkan turut berduka sedalam-dalamnya atas kepergian ayahku, yang bahkan tak mereka kenal. Aku berjalan lunglai menuju kelas. Di koridor aku berpapasan dengan si gadis bisu. Sepersekian detik mata kami bertemu. Mataku menyiratkan rasa kebencian yang amat besar kepadanya. Tak tau apa sebabnya.
Dengan menunduk, aku masuk kelas dan meminta maaf atas keterlambatanku. Guru yang sedang mengajar berbaik hati mempersilahkanku masuk. Tak lama, sang guru memanggil nama kami satu per satu. Oh, pengembalian buku latihan, seperti biasa.
“Ashraf Al-Rasyid.” Namaku dipanggil. Aku berjalan mendekat.
“Ibu turut prihatin dengan keadaan ayahmu. Kamu harus tabah menghadapi ujian tuhan. Yang sabar ya nak”
Ku ucapkan terimakasih dengan wajah sendu. Aku tak penasaran dengan nilaiku. Rata-rata nilaiku tak pernah kurang dari 9. Yang membuatku penasaran, amplop biru laut yang terselip di dalamnya. Surat cinta ke 5. Suratnya tak berisi banyak. Si gadis menulis seberapa menderitanya ia melihatku murung. Tak lupa mengucapkan duka cita mendalam atas meninggalnya ayahku. Kali ini dia menyertakan catatan kunci gitar ‘Ayah’, diciptakan oleh band ‘Seventeen’. Wah, dia juga memberiku tiket konser amal yang diadakan esok petang. Di sudut kiri bawah surat, si gadis menuliskan bahwa ia akan tampil di urutan ke 7 di konser tersebut dan menunggu kehadiranku. Dalam hati aku berjanji akan datang.
***
Hari minggu aku dan si pengirim amplop biru akan bertemu. Satu jam sebelum konser di mulai aku sudah menempati kursiku. Sepintas ku lihat si gadis bisu berjalan canggung ke belakang panggung. Kontak mata terjadi lagi. Kali ini aku membuang muka.
Satu demi satu susunan acara telah berlangsung. Pembawa acara mempersilahkan pengisi acara nomor 7 memasuki panggung. Ini dia. Dengan sepatu hak setinggi lima senti, melangkah dengan hati-hati. Dibalut gaun biru laut yang sederhana, sigadis tampil mempesona. Tali gitar akustik coklat tua tergantung indah di bahunya. Ku tak yakin dengan penglihatanku. Rambut cokelat ikal halus jatuh sampai ke punggung. poni daun si gadis agak menutupi mata kanannya. Aku mengangga terpesona. Ia melantunkan lagu barat yang tak ku kenal. Namun tetap saja aku tersihir oleh suara merdu sang pengirim amplop sewarna dengan laut nan biru. Dua detik kami saling pandang dan bertukar senyum. Malangnya, aku tak sempat bertemu dengannya di belakang panggung. Anehnya aku berpapasan dengan gadis bisu saat ia keluar dari belakang gedung.
Malam hari yang cerah di balkon kamar. Aku menikmati secangkir teh hangat di temani langit berhias jutaan bintang. Buku astronomi yang baru ku beli menuntun jari telunjukku ke koordinat bintang sirius yang sedang berkelap-kelip terang dan membuatku senang. Oh, baru ku tahu, ternyata sirius adalah rasi bintang. Dulu aku tak peduli dengan pemandangan indah ini. dikala malam, saat aku mendongakkan kepala, yang kulihat adalah selembar kain gelap yang penuh bintik-bintik seperti ketombe. Tapi sekarang berbeda. Di langit malam bisa ku lihat betapa mengagumkannya ciptaan tuhan. Bagaimana bisa bintang-bintang yang besarnya 30 kali diameter bumi, tampak seperti intan yang sangat kecil bila dilihat dari permukaan bumi? Tuhan sungguh maha pencipta.
***
Senin. Aku benci Senin. Pelajaran sulit dan tugas bertumpuk di hari Senin. Tak sabar ku dengar bel tanda isirahat. Jam istirahat aku menemukan amplop biru laut ke 6 di ruang musik. Di temukan oleh salah satu personil band-ku di atas drum. Si gadis mungkin tak tahu aku seorang gitaris. Surat cinta itu sempat membuat heboh teman-teman band-ku. Saat ku bilang itu surat keenam yang aku terima, mereka spontan memelukku.
***
Pagi hari sebelum berangkat sekolah, ku sempatkan membuka kotak surat. Mungkin tak ada buatku. Setidaknya ada surat tagihan yang harus dibayar ibu. Tepat dugaanku, hanya surat tagihan listrik, air, telpon, dan kartu kredit. Tak ada amplop biru laut. Hari ini langit mendung. Sinar mentari tak sanggup menembus pekatnya awan. Ibu tak mengizinkanku menggunakan motor. Aku menolak ketika kak Sofie menawarkan diri mengantarku ke sekolah. kata ibu, dia pulang tengah malam dalam keadaan mabuk. Takkan ku biarkan dia menyetir. Akhirnya, dengan berat hati kak Reyhan mengantarku ke sekolah. sesaat aku masuk kelas, hujan deras tanpa ampun turun menghujam permukaan bumi. Kenapa bumi bersedih hari ini? entahlah.
Aku duduk manis di kursi depan kelas Suci. Aku memetik senar gitar untuk menghilangkan kebosananku menunggu.. Sialnya aku, Suci dengan wajah ceria menggandeng seorang laki-laki. Murid paling tajir dan populer di sekolah. Maklum, ayahnya beberapa kali muncul di halaman depan koran lokal karena korupsi yang dilakukan. Sekarang tercatat sebagai tahanan di rutan kota ini. setidaknya tuan tajir masih punya ayah. Sedangkan aku? Ayah tak ada, kekasih pun tak punya.
Suci, gadis pujaanku, tak sedetikpun melirik saat melintas di depanku. Sejumlah email yang ku kirim tak pernah di balas. BBM[5] dari ku di baca pun tidak. Bahkan tak mau menyapa, walau aku baru di tinggal pergi ayah tercinta. Ku nyanyikan lagu patah hati yang membuat orang yang lewat berhenti. Ku kabarkan hatiku yang pilu dengan lagu sendu. Semakin kuhayati semakin mengiris hati. Di akhir lagu, seorang murid laki-laki spontan membaca puisi patah hati. Ku iringi dengan petikan gitar yang membuat hati bergetar. Semua menangis pilu, suasana mengharu biru. Tangisan dan tepuk tangan berpadu jadi satu.
***
Aku pulang ke rumah menumpang seorang teman. Beberapa langkah dari pagar, seseorang memanggilku. Sambil menahan tangis, pemuda seumuran kak Reyhan memberiku amplop biru laut ukuran besar, dan menghadiahiku pelukan penyemangat. Aku tak tahu apa maksudnya. Ku ucapkan terimakasih. Di kamar, dengan tergesa ku buka amplop biru yang ku tunggu. Aku mulai membaca.
Ashraf, bintang Sirius-ku,
Ini adalah surat ketujuh yang ku kirim padamu. Entah kamu menghitung atau tidak. Aku berharap kamu membacanya walau kemudian mungkin,kamu membuangnya.
Tadi siang, ku lihat matamu sembab. Sinar matamu seketika redup. Ku lihat masih tersisa sebutir air bening di sudut matamu. Senyummu yang mempesona seakan terhapus dari wajahmu. Dengan garang kamu meremas kaleng minuman dengan satu tangan.
Aku sedih melihatmu seperti itu. Ada apa denganmu? Andai aku tahu masalahmu, aku pasti membantu. Kamupun tak mungkin bercerita padaku karena kamu tak tahu siapa sebenarnya diriku.
Aku memang pengecut. Tak sekalipun ku sapa dirimu saat di sekolah. Ya, kita pernah bertemu di konser amal. Itu aku dengan penampilan lain, bukan yang sebenarnya. Jika kita bertemu, pasti kamu akan menyesal telah mengenalku. Aku tahu, surat-surat yang telah ku kirim membuatmu menyukaiku, lebih tepatnya menyukai tulisanku dan mulai mencari tahu siapa aku.
Aku sangat mengenalmu, Ashraf. Aku lebih mengenalmu daripada mengenal diriku. Terdengar ekstrem? Mungkin bagimu. Itu karena aku sangat mengagumimu. Bukan kagumnya seorang fans, Ashraf. Sungguh aku menyayangimu. Menyayangimu melebihi menyayangi diriku sendiri. Karena itu, sebisa mungkin aku membantumu tanpa sepengetahuanmu.
Ingat ketika kamu dikeroyok senior yang menuduhmu merayu pacarnya? Baju seragammu dilepas dan dibuang ke kolam berlumpur di belakang sekolah. Kamu terlihat pasrah dan melarikan diri ke kamar mandi. Aku berlari masuk kelas dan mengambil baju seragamku yang untungnya tak berlabel nama dan menggantungnya di pintu toilet tempat kamu meratapi kesialanmu. Kemudian aku lari sekencang mungkin agar tak terlihat olehmu. Aku yang memakai baju olahraga masuk ke kolam lumpur mencari bajumu. Untungnya kolam hanya setinggi lututku. Aku terus mengaduk-aduk lumpur, meraba-raba hingga dasarnya mencari baju seragam itu. Aku tak peduli berapa banyak siswa menertawaiku dan menganggapku frustasi. Tepat tengah hari akhirnya ku temukan baju seragammu. Ku cuci dengan air bersih. Nodanya tak mau hilang. Yah, apa boleh buat,ku cuci di rumah saja. ketika aku masuk kelas, aku dimarahi karena mengenakan pakaian olahraga diluar jam olahraga. Setiap guru yang masuk mengomentari kesalahanku itu.
Setengah mati aku mencuci seragam penuh lumpur itu sampai tanganku sakit. Setelah kering, kemudian ku setrika. Tepat pukul enam, ku letakkan seragam yang telah ku bungkus rapi di teras rumahmu.tak lupa ku sertai secarik kertas berisikan ‘untuk Ashraf, ku harap kamu menghindari mereka’. Ku tekan bel, dan berlari masuk ke mobil.
Ashraf, bintang Siriusku,
Surat ketujuh ini adalah surat terakhir dariku. Tentu aku ingin terus mengirimimu amplop biru laut itu. Namun, aku sudah tak sanggup menulis lagi. Tubuhku kini telah lelah menopang hidupku sendiri. Aku sakit. Beberapa organ dalm tubuhku hancur perlahan digerogoti penyakitku ini. tadi siang, mungkin, adalah hari terakhirku melihatmu walau dari balik jendela mobil. Itu berkat kakak laki-laki ku yang baik, yang mau mengantarku melihat paras Pakistan-Melayu mu untuk terakhir kali.
Sekarang, kamu sedang membaca surat terakhir yang diantar langsung oleh kakakku. Apa tadi kakakku menangis? Oh, ya. Apa dia juga bilang kamu jangan buka amplop biru laut yang bercorak bunga lili sebelum membaca surat ini? terimakasih telah mengikuti peraturannya.
Hm, kamu penasaran siapa aku? Tenang saja, aku takkan membuatmu penasaran seumur hidup. Sekarang, silahkan kamu buka amplop biru laut dengan corak bunga lili itu. Kamu akan tahu siapa sebenarnya aku. Tapi kamu takkan pernah melihat gadis yang ada di foto dan video rekaman di amplop itu. Kini aku sudah jauh pergi ke tempat di mana aku takkan pernah bisa mengirimkan amplop biru laut padamu lagi. Dari sana, aku hanya bisa melihatmu membaca surat ini dari alam tak terjamah.
Jangan menangis. Saat ayahmu pergi ke dunia yang sama sepertiku, kamu tak menangis kan? Jadilah tegar layaknya bintang sirius. Ashraf, saat awan gelap menghalangi sinar bintang lain, bintang sirius tetap mampu memperlihatkan keindahannya. Aku mau kamu seperti bintang sirius, yang tetap berkilau walau sial menghalau. Yakinlah bahwa kelak kita akan bertemu di alam keabadian. Dan kemudian akhirnya kamu mau tersenyum padaku dan tak menatapku sinis seperti waktu dulu.
Pengagum rahasiamu,

Nadine Iskandar
***
Ku pandangi satu demi satu foto si gadis pengirim amplop biru laut, Nadine Iskandar. Gadis bisu yang sering ku remehkan, ternyata seorang gadis cantik pemilik suara emas dan gitaris yang jenius. Sungguh tak ku sangka semuanya jadi begini. Tak ada yang bisa ku lakukan. Takkan ada Nadine Iskandar lain di dunia ini. kini aku menangis, benar-benar menangis. Di dalam tangisku aku meminta maaf atas perilaku burukku terhadapnya. Nadine, terimakasih telah mengirimkan 7 amplop biru laut padaku. Selamat jalan, gadis biru laut-ku.**

Biodata Penulis
Nama                             : Genia Karolina Sinulingga
Alamat Rumah     : perumahan Bougenville Blok EO No. 3 Simpang Rimbo
No. Handphone    : 082374421926
Asal sekolah                  : SMA N 1 Kota Jambi
Alamat sekolah    : jalan Jendral Urip Sumoharjo No. 15 Telanai Pura  Jambi
No telp sekolah    : (0741) 63147
Guru pembimbing          : Prima Enita, S.Pd


[1] Halo, halo, ada orang disana?
[2] Ya, ini saya, Ashraf, siapa disana?
[3] Aplikasi yang memfasilitasi komunikasi tatap muka jarak jauh melalui internet
[4] Surat elektronik
[5] Blackberrry Messeger: aplikasi pesan khusus di telpon genggam merek Blackberry

Tidak ada komentar:

Posting Komentar